Tuesday, 1 October 2013
Sunday, 25 August 2013
Venue resepsi
Ini beberapa gedung yang udah saya berhasil hubungi. Harganya sih masuk budget.
Lemhanas
Jl. Kebon Sirih
3832471
Wisma Antara
Jl. Merdeka Selatan
3507103 ext. 204
Granadi
Jl. Rasuna Said Kuningan
2522745
Patrajasa
Jl. Gatot Subroto
5228082
Club Executive Persada
Lemhanas
Jl. Kebon Sirih
3832471
Wisma Antara
Jl. Merdeka Selatan
3507103 ext. 204
Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial
Granadi
Jl. Rasuna Said Kuningan
2522745
Patrajasa
Jl. Gatot Subroto
5228082
Club Executive Persada
Halim Perdana Kusuma
8009121
BKKBN
Halim Perdana Kusuma
8009141, 8009085
Udah kebayang bakal married disini dr dulu karena ini katanya discount anak pegawai BI gede, eh pas ditelvon, mana discountnya ga seberapa, ditambah chargenya guedeee bgt sumpah klo ga catering dr hotel. Makanan hotelnya juga buffet tok, tanpa gubukan. Belum dekorasi dan printilannya.
Jadi kalau dilihat patternnya, gedung-gedung pilihan saya itu ga neko-neko... Cuma sekitar Thamrin, Gatsu (Gatot Subroto), Salemba, Kuningan, Halim. Thamrin sih kejauhan juga.
8009121
BKKBN
Halim Perdana Kusuma
8009141, 8009085
Bidakara Wedding Hall
http://bidakarahotel.com/banquet-meeting/wedding/
http://bidakarahotel.com/banquet-meeting/wedding/
Udah kebayang bakal married disini dr dulu karena ini katanya discount anak pegawai BI gede, eh pas ditelvon, mana discountnya ga seberapa, ditambah chargenya guedeee bgt sumpah klo ga catering dr hotel. Makanan hotelnya juga buffet tok, tanpa gubukan. Belum dekorasi dan printilannya.
Jadi kalau dilihat patternnya, gedung-gedung pilihan saya itu ga neko-neko... Cuma sekitar Thamrin, Gatsu (Gatot Subroto), Salemba, Kuningan, Halim. Thamrin sih kejauhan juga.
Ada juga sih yang terpikir tapi belum bisa dihubungi. Mau bantu teman? :)
Dharma Wanita Pesatuan Pusat, Kuningan
Departemen Hukum dan Ham, Kuningan
BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), Gatsu
Departemen Hukum dan Ham, Kuningan
BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), Gatsu
Gedung Oryza Bulog
CP: Ibu Sulis (08158883881), 5252209
Departemen Tenaga Kerja, Gatsu
Departemen Perindustrian, Gatsu
Wednesday, 21 August 2013
Yeay.. Gedung adat confirmed
Monday, 19 August 2013
Daftar gedung pesta adat
Nah secara
bagian adat udah diurusin paranak jadi saya ga terlalu pusing. Saya udah pernah cerita
di post sebelumnya, sempat hubungi marketing Grand Mangaradja tapi ternyata
pihak keluarga pacar udah punya pilihan lain, dengan pertimbangan satu dan lain hal.
Ini beberapa gedung yang bisa dibuat resepsi adat.
BPU Gorga I
Gedung Mayoria
Jalan Boulevard Timur Kav. 7, Kelapa
Gading, Jakarta
Telp. (021) 45840806/05
BPU Gorga I
Jalan Patra No. 1, Tanjung Duren,
Jakarta Barat
Telp. (021) 5689084
BPU Gorga II
Jalan H. Kamad No. 14, Pondok Bambu,
Jakarta Timur
Telp. (021) 8613912
BPU Gorga III
Jalan Raya Pondok Timur, Bekasi Timur,
Bekasi
Telp. (021) 82606802
BPU Gorga IV
Jalan Mandala V No. 38, Cililitan
Besar, Jakarta Timur
Telp. (021) 80877171
BPU Sahala Martua
Jalan Raya Komang No. 112, Kec. Komang,
Bogor
Telp. (0251) 7535140
BPU St. Nahason Parapat
Jalan Wibawa Mukti 131, Jati Asih,
Bekasi
Telp. (021) 82441562
Balai Samudera
Jalan Boulevard Barat No. 1, Kelapa
Gading, Jakarta
Telp. (021) 45851721
GPU Sejahtera
Jalan Raya Pondok Gede No. 1, Pinang
Ranti, Jakarta Timur
Telp. (021) 87792049
Gedung Hermina
Jalan Mampang Prapatan No. 8, Mampang,
Jakarta Selatan
Telp. (021) 7982960
Mulia & Raja
Jalan Cipinang Besar Selatan No. 70,
Kebon Nanas, Jakarta Timur
Gedung Corpatarin
Jalan Kaplongan Raya No. 1, Pulo Asem, Rawamangun, Jakarta Timur
Jalan Kaplongan Raya No. 1, Pulo Asem, Rawamangun, Jakarta Timur
Telp. (021) 4898130 / 4759505 Fax : 47868253
Grand Mangaradja
Jalan Perintis Kemerdekaan Kav. 7-9,
Pulo Gadung, Jakarta Timur
Telp. (021) 4527869
Graha Cibening
Jalan Caman Raya No. 29, Jatibening 2,
Pondok Gede, Bekasi
Telp. (021) 8472062
Toton Baho
Jl. Raya Pekayon No. 8, Bekasi
http://totonbaho-grandballroom.com/
Kantor : (021) 44 796 796 / 8242 0723
email : donna@totonbaho.com
Bagas Raya
Jl. Raya Pondok Kelapa, Rt. 02/Rw. 02 Pondok Kopi. Duren Sawit
Selain itu, gedung lain seperti Balai Sudirman Jl. Saharjo Tebet, Manggala Wanabhakti Departemen Kehutanan, Puri Ardhya Garini Halim, Wisma Pertamina Jakarta Pusat, GOR Rawamangun, juga bisa dipakai untuk pesta adat.
Toton Baho
Jl. Raya Pekayon No. 8, Bekasi
http://totonbaho-grandballroom.com/
Kantor : (021) 44 796 796 / 8242 0723
email : donna@totonbaho.com
Bagas Raya
Jl. Raya Pondok Kelapa, Rt. 02/Rw. 02 Pondok Kopi. Duren Sawit
Selain itu, gedung lain seperti Balai Sudirman Jl. Saharjo Tebet, Manggala Wanabhakti Departemen Kehutanan, Puri Ardhya Garini Halim, Wisma Pertamina Jakarta Pusat, GOR Rawamangun, juga bisa dipakai untuk pesta adat.
Pengen kebayanya sih begini
Nah yang gambar kedua itu (tampak belakang) aku ambil dari blognya Naomi Tobing. Aku banyak juga baca-baca blog dia untuk referensi nikah adat batak. Aku suka reviewnya. Model sanggul rambut aku mau seperti begitu dengan hiasan bunga melati. Trus ditambah veilnya, cantikkk. Mohon izin capture bagian punggungnya ya kak Naomi... Pengennya sih model punggung terbuka juga, tapi bagaimana designnya lihat nanti. Jadi model kebaya V neck seperti Kate Middleton. Nah jadi, pengennya kebaya adat itu kannn (udah diurusin sama mama camer), tapi pengen begituuu... huhu... Ya ga seturun Kate Middleton juga sih, naikian dikit supaya ga wowow banget. Tampak belakang, sanggul rambut dan veil seperti kak Naomi.
Rencana saya itu, cuma ada satu kebaya di pemberkatan, adat dan nasional *ngirit* hahahaha, tapi bahan lace dan veilnya harus diimpor dari Paris *kemudianhening*. Nah, kalau dizinkan ortu *teteuppp* aku pengennya seperti sista Marcella Zalianty ini... Semua aja dipanggil sistaaa. Kebaya tetep warna putih, bawahan batik, rias rambut ya Jowo begitu, ada bunga-bunga melatinya. Kan jadinya satu kebaya tapi tiga gaya, karena hair stylemya juga dibedain... Bagus yahhh. Model V
juga tapi neck-nya beda dengan Kate Middleton. Yang bikin aku suka
disematkan hiasan di dada itu loh. Simple tapi gimana gitu.
Udah kasih unjuk mama sih gambar-gambar ini, tapi kata mama ga usah Jawa banget gitu juga sih, pake crown aja seperti Kate Middleton tapi rambutnya disanggul. Trus kebaya ga boleh 3 in 1, satu model tiga gaya. Wakakaka. Adat dan nasional, dibedain warnanya dan modelnya. Lagipula emg boleh sama mama camer pake kebaya model V gitu buat pemberkatan dan adat??? Huaaa... boleh donk bolehhh.
Nah beda dengan Kate Middleton juga, kebaya Marcella ini, lacenya full. Kembang-kembangnya ga jarang. Bagusan mana ya?
Test food chikal
18 Agustus 2013
Hari ini test food chikal catering di club executive persada halim. Nah kenapa saya pilih chikal? Pertama, saya baca review di forum-forum kalau chikal itu cukup enak, mama juga pernah order chikal buat acara katanya enak. Kalau saya lupa udah pernah nyobain atau belum. Kan taunya makan doank, hahaha. Kedua, saya cek di website dan telvon yang punya juga (ibu Sri) nanyain penawaran paket, harganya masuk budget saya. Jadi, chikal jadi salah satu dari pilihan catering saya dan keluarga.
Sebelumnya saya telvon ibu sri dulu minta disediakan tempat 2 orang untuk testfood. Jadi menurut saya... Begini... Saya bagi ke dalam 5 kategori. Enaknya kebangetan, enak banget, enak, biasa aja, kurang dan mendingan jangan makan deh. Yang terakhir itu sih sebenernya parah banget. Ga mungkin juga sih catering yang biasa layanin pernikahan ada yang kacau banget rasanya. Cuma siapa tau saat masak emang lagi skippp.
Sebelumnya saya telvon ibu sri dulu minta disediakan tempat 2 orang untuk testfood. Jadi menurut saya... Begini... Saya bagi ke dalam 5 kategori. Enaknya kebangetan, enak banget, enak, biasa aja, kurang dan mendingan jangan makan deh. Yang terakhir itu sih sebenernya parah banget. Ga mungkin juga sih catering yang biasa layanin pernikahan ada yang kacau banget rasanya. Cuma siapa tau saat masak emang lagi skippp.
Enaknya kebangetan
Belum ada sih
Enak banget
Ayam rollade
Udang tepung mayo
Enak
Salad mix - mayonya enakkk
Puding dan fla - pudingnya kemanisan tapi bisa dinetralisir dengan fla yang pas banget rasanya
Empal gentong - dagingnya empuk
Nasi goreng - bumbunya pas
Sate ayam - bumbu kacangnya pas
Korean barbeque - dagingnya asin, nasinya enak sih
Korean barbeque - dagingnya asin, nasinya enak sih
Biasa aja (artinya, ga tau harus dikomentarin apa)
Sop kimlo
Daging dendeng balado
Kurang
Zuppa soup - cukup asin
Orange juice - lebih berasa airnya
Bakwan malang - bakso kebanyakan lada
Jd kesimpulannya, makanan chikal cukup recomended, kalau ada yang kurang atau gimana, misalnya kurang garem atau kebanyakan lada, tinggal disampein aja ke yang punya, ibu Sri, dia ramah dan baik banget orangnya. Kalau saya bilang ga kaku, ngerti maunya pelanggan dan legowo nerima masukan. Kata orang-orang sih dia itu sabar.
By the way, saya merasa tumben lidah saya objektif. Saya ga gampang bilang makanan itu enak. Saya ikutin saran temen saya sih, Inez, kalau datang test food, jangan saat keadaan lagi laper. Nah kemarin itu, sebelum datang test food, saya udah makan di rumah. Cukup kenyang. Plus, saya niat banget untuk menilai. Jadi saya cobain dikit-dikit semua jenis makanan yang disediakan disana (misalnya dendeng baladonya cuma satu, ga secentong) dan ga ada nafsu untuk makan. Dan menurut saya, saya cukup berhasil untuk menilai *dibantu mama saya*.
Nah selain test makanan, saya sempat masuk ke dalam untuk ngintip dikit dekorasi dan suasananya. Menurut saya, dekorasi chikal cukup bagus. Mungkin karena tempatnya luas, dekorasinya jadi terlihat sepi. Kata bu Sri, penganten pesen yang paket 800 orang, dan saya lihat suasannya cukup kondusif. Tapi tamunya cukup sepi ya. Mungkin karena itu ruangan dengan kapasitas 1500 orang tapi dia cuma pesen yang 800 orang. Saya sempat lihat para pegawainya, mereka semua pakai masker. Biarpun seperti di rumah sakit, tapi kebersihan makanan kan terjaga banget, kalau dia tiba-tiba bersin kan ga kena makanan. Kalau higienis, chikal top deh.
Saya suka dengan dekorasi pergola pintu masuk dan pagar rantingnya, ditambah cahaya lampunya itu manis banget buat acara malam.
Lalu, saya pulang ga sempet pamit dengan ibu Sri karena sepertinya ibu Sri lagi sibuk mondar-mandir ngecek keadaan. Nah itu boss yang baik. Lalu, saya sms aja ibu Sri, bilang terima kasih dan akan menyusun menu yang dinginkan lalu nanti minta proposal lengkap dengan budgetnya melalui email. Ya begitulah cara-cara dalam memilih catering (kata mama papa). Saya anaknya manut koq. Hehehe.
Nah kalau penasaran dengan harga dan paket yang di tawarin, dateng ke websitenya aja. Ga seperti catering kebanyakan, disitu dia tulis harganya dengan jelas, jadi ga perlu repot-repot nelvon untuk nanya harga..
Oia, terakhir... Menurut saya (lagi) soal rasa itu emang ga bisa pure objektif, karena tiap orang punya cita rasa yang berbeda. Paling bagus ya dateng, cobain sendiri.
website : http://www.chikal.co.nr/
Nah selain test makanan, saya sempat masuk ke dalam untuk ngintip dikit dekorasi dan suasananya. Menurut saya, dekorasi chikal cukup bagus. Mungkin karena tempatnya luas, dekorasinya jadi terlihat sepi. Kata bu Sri, penganten pesen yang paket 800 orang, dan saya lihat suasannya cukup kondusif. Tapi tamunya cukup sepi ya. Mungkin karena itu ruangan dengan kapasitas 1500 orang tapi dia cuma pesen yang 800 orang. Saya sempat lihat para pegawainya, mereka semua pakai masker. Biarpun seperti di rumah sakit, tapi kebersihan makanan kan terjaga banget, kalau dia tiba-tiba bersin kan ga kena makanan. Kalau higienis, chikal top deh.
Saya suka dengan dekorasi pergola pintu masuk dan pagar rantingnya, ditambah cahaya lampunya itu manis banget buat acara malam.
Lalu, saya pulang ga sempet pamit dengan ibu Sri karena sepertinya ibu Sri lagi sibuk mondar-mandir ngecek keadaan. Nah itu boss yang baik. Lalu, saya sms aja ibu Sri, bilang terima kasih dan akan menyusun menu yang dinginkan lalu nanti minta proposal lengkap dengan budgetnya melalui email. Ya begitulah cara-cara dalam memilih catering (kata mama papa). Saya anaknya manut koq. Hehehe.
Nah kalau penasaran dengan harga dan paket yang di tawarin, dateng ke websitenya aja. Ga seperti catering kebanyakan, disitu dia tulis harganya dengan jelas, jadi ga perlu repot-repot nelvon untuk nanya harga..
Oia, terakhir... Menurut saya (lagi) soal rasa itu emang ga bisa pure objektif, karena tiap orang punya cita rasa yang berbeda. Paling bagus ya dateng, cobain sendiri.
website : http://www.chikal.co.nr/
Friday, 16 August 2013
Persiapan resepsi nasional
Seperti yang udah dibahas
sebelumnya, kami sekeluarga sepakat untuk melakukan 2x pesta resepsi, yaitu
adat batak dan nasional (yang recananya bernuansa jawa jogja). Emang nih UUB (ujung-ujungnya budget).
Ya karena udah lumayan juga
yah budget di resepsi adat, jadi aku berusaha sesederhana mungkindi resepsi kedua.
Pengennya sih dapat yang terbagus tapi ga termahal juga. Biarpun ada rupa, ada
harga, tapi yang bagus ga selalu harus mahal. Intinya sih ga pengen kebanyakan
gaya dan sok ketajiran. Makanya nih satu tahun untuk hunting, survey, dapet review sana-sini, tanya teman, dan lain-lain, semuanya kita lakukan.
Saya bukan orang yang
selalu ingin sempurna tapi saya orang yang selalu ingin dapatkan yang setimpal
dan paling ga suka kalau (merasa) diboongin. Dalam arti kata, dapet kemahalan
atau ga sesuai dengan pesanan.
Ini adalah beberapa list
yang sudah saya ancang-ancang untuk dipertimbangkan.
1. venue
Udah googling semua venue
resepsi di Jakarta, baik indoor maupun outdoor. Sebenernya pengen outdoor tapi
masih dipertimbangkan. Sumpah pengen banget outdoor. Modern, romantis, tapi,
tapi... Huhu, tetap butuh approve dari ortu... Bahkan saya copy paste semua
info tentang venue resepsi di Jakarta (alamat dan no. telepon). Saya telvon
satu-satu yang kira-kira sesuai keinginan. Tanya harga, rekanan catering A, B
dan C ada atau tidak, kapasitas ruangan, kapasitas parkir. Yang sudah berhasil
di telvon, saya catat dikertas maupun di blog supaya ga hilang. Saya utarakan
sejelas-jelasnya ke ortu, kelebihan dan kekurangan tempat tersebut. Semoga
dapet yang pas. Amin.
2. catering
Ini sih urusan mama
sebenernya, soalnya mama udah lebih ahli kalau ngurusin catering buat acara
kantor, dan lidah saya itu suka ga objektif. Ga ada makanan enak atau ga enak
buat saya. Adanya enak dan enak banget. Zzzzz... Saya suka asin, suka manis,
pait seperti teh hijau dan pare juga saya jabanin. Lidah yang too friendly.
Berarti kalau makanannya keasinan dan kemanisan buat saya, berarti itu udah
parahhh banget. Jadi, yang pasti sih saya lebih lihat dekorasi catering yang
cukup ciamik, kebersihan, kecekatan pegawainya saat beresin piring dan gelas
kotor, keprofesionalan sang pemilik dan budget yang masuk kantong. Kalau soal
rasa, tolong yah mama dan teman saya saja yang beri penilaian.
3. dokumentasi (foto dan
video)
Ini penting banget untuk
saya. Penting banget. Makanya nanti kalau ada catering yang nawarin
paketan, saya akan tetap sewa vendor foto dan video yang terbaik menurut saya. Dokumentasi menurut saya adalah seni, cerita pernikahan saya
dalam hari itu akan terkenang dalam bentuk foto dan video. Bukti otentik itu
cuma ada di foto dan video. Ga seperti lidah, mata saya cukup jeli untuk
membedakan mana hasil foto yang bagus dan tidak. Dan ini biasanya ga perlu book
dari jauh-jauh hari kan, jadi waktu untuk memutuskan masih panjang.
4. kebaya atau gaun?
Ah ini juga penting. Rencananya beneran france lace, tapi pgn payet heboh which is sebaiknya pake semi france. Harga sih rata-rata sama yah tiap tempat jualan
bahan. Pengalaman saya, bahkan yang langganan pun, ga ngasih
murah-murah banget koq, apalagi tau itu buat kawinan. Saya sih ga terlalu percaya
dengan satu tempat jualan bahan. Yang pasti saya harus dapet penjahit yang
emang mampu jahitin sesuai keinginan dan selesai tepat waktu (ga peduli dia
punya orderan berapa banyak, profesional itu diatas segalanya). Pengennya sih
pake designer. Designernya udah tau pengen siapa karena sebagai perempuan yang mentingin outfit, saya tau apa yang saya mau, tapi balik lagi, ga usah
kegayaan. Hahaha. Tapi itu nanti ajalah, saya harus diet dulu. Saya aja
masih bingung untuk resepsi adat, dan nasional itu, kebayanya mau satu aja,
atau dibedain jadi bikin 2. Orang-orang sih biasanya dibedain, entah bikin
sendiri atau sewa. Harusnya sih ga sewa karena kan pasti beda rasanya pake
kostum sewaan dan kostum sendiri. Tapi kalau jadi pake nuansa jawa, saya sewa deh. Yang pasti bahan kebaya untuk marhusip di
bulan desember sih udah dibeli, tinggal cari design yang paling pas dan
penjahitnya.
5. prewed
Yang ini udah tau sih mau
siapa, hasil cukup oke, budget juga udah masuk kantong. Tapi tetep kalau
modelnya emang cakep, ngebantu hasilnya juga. Tiga kata, diet dulu deh.
Lagipula belum deal, jadi kalau nemuin yang lebih bagus dan murah, bisa pindah.
Prewed itu sih nomor 2 yah, walaupun foto prewed akan dipajang di meja konsul
dan dijejerin saat di hari H, yang paling penting kan hasil foto saat di hari H
weddingnya. Jadi prewed dan wedding, setara donk yah bagusnya. Jangan sampe
hasil di hari H wedding sendiri ga lebih bagus dari foto prewed. Buat apaaaa. Tapi sepertinya vendor foto prewed dan foto wedding
saya beda.
Udah sih itu dulu. Kalau
yang lain seperti make up, undangan, souvenir, dekorasi pelaminan dan lain-lain
belum sempat dipikirin.
Monday, 12 August 2013
Googling vendor pernikahan
Udah sempet survey
ke beberapa gedung untuk resepsi nasional dan kesan pertama survey adalah kalau
gedung itu udah langganan jadi tempat kawinan, biarpun biasa banget tetep aja
mahal. Memang tempatnya strategis dan tempat yang strategis emang udah wajib
jadi langganan orang kawinan. Jadi intinya, gimana caranya untuk menekan biaya
pernikahan yang selangit ya???
Memang pepatah
yang mengatakan, ada harga ada barang itu, benar. Momen sekali seumur hidup
tidak boleh disia-siakan itu, benar. Tapi perlu kebijaksanaan dalam mengatur biaya
pengeluaran dalam pernikahan. Yang penting tsaaahhh, pesta itu urusan nomor 2.
Mumpung masih libur, saya googling sana-sini tentang vendor-vendor pernikahan
yang bagus tapi harga terjangkau. Niat banget searching sampai
no more result, mulai dari sengaja niat cari dari web, find all images, nyasar
di blog orang (ini nyasar yang sangat menguntungkan), membaca review-review
orang dengan seksama, melihat-lihat portfolio mereka, terakhir kalau udah mulai
tertarik, langsung aja email atau telvon vendornya untuk info dulu. Sejauh ini sih saya
belum ada yang sreg. Mama sih udah, malah dia yang semangat banget telvon
gedung, catering, cari bahan, dan lain-lain. Setahun lagi loh maaa. Tapi
katanya sih ga kerasa, waktu itu berjalan cepat. Kalau ntar-ntar, ga kerasa
waktunya udah mepet, nyesel ga bisa milih-milih dengan puas. Bener juga sih..
Yang pasti, ini
juga saran dari orang tua. Hal-hal yang saya persiapkan itu (mumpung masih
setahun lagi) adalah:
1. buat perkiraan
biaya yang keluar
Omongin dulu sama pacar dan orang tua, saweran berapa persen (penting!), dan saya usahain untuk buat budget minimal dan budget maximal. Misalnya saya ada dana 15juta (itu maximal), tapi saya usahakan cuma terpakai 10 juta (itu minimal. Itu untuk jaga-jaga aja, kalau ada pengeluaran tak terduga. Kalau tercover dengan budget minimal, sisanya bisa dipake untuk yang lain. Kalau ternyata ludes dengan budget maximal, ya sudah itu memang sudah dipersiapkan toh.
Omongin dulu sama pacar dan orang tua, saweran berapa persen (penting!), dan saya usahain untuk buat budget minimal dan budget maximal. Misalnya saya ada dana 15juta (itu maximal), tapi saya usahakan cuma terpakai 10 juta (itu minimal. Itu untuk jaga-jaga aja, kalau ada pengeluaran tak terduga. Kalau tercover dengan budget minimal, sisanya bisa dipake untuk yang lain. Kalau ternyata ludes dengan budget maximal, ya sudah itu memang sudah dipersiapkan toh.
2. siapin dana tunai
At least 10% dari total biaya keseluruhan (buat DP sana-sini). Kalau dana maximal 15 juta, siap-siap 1.5 juta keluar di awal.
At least 10% dari total biaya keseluruhan (buat DP sana-sini). Kalau dana maximal 15 juta, siap-siap 1.5 juta keluar di awal.
3. pikirin tanggal
yang passs dan hari baik
Kalau emang percaya hari baik. Saya percaya hari dan tanggal baik, bukan dari adat atau dari mana-mana, dari feeling aja :D. Kadang bukan tanggal menentukan gedung, tapi gedung yang menentukan tanggal. Kalau setahun sebelumnya disiapin sih, gedung masih banyak yang kosong ya, ada beberapa perkecualian sih buat gedung yang laku banget)
Kalau emang percaya hari baik. Saya percaya hari dan tanggal baik, bukan dari adat atau dari mana-mana, dari feeling aja :D. Kadang bukan tanggal menentukan gedung, tapi gedung yang menentukan tanggal. Kalau setahun sebelumnya disiapin sih, gedung masih banyak yang kosong ya, ada beberapa perkecualian sih buat gedung yang laku banget)
4. langsung DP venue adat
Kalau seperti saya, pake adat batak, harus buru-buru banget. Terbukti saat saya datang ke venue pilihan, tanggal yang saya mau sudah di DP. Nah, pilihannya 2, saya ganti tanggal atau ganti venue. Akhirnya saya ganti tanggal dan ganti venue juga ujung-ujungnya :D. Gedung di Jakarta yang mau nerima resepsi adat batak itu bisa dihitung dengan jari, jadi ya begitu deh. Tanggal untuk venue resepsi nasional, yang pasti mengikuti tanggal resepsi adat lah.
Kalau seperti saya, pake adat batak, harus buru-buru banget. Terbukti saat saya datang ke venue pilihan, tanggal yang saya mau sudah di DP. Nah, pilihannya 2, saya ganti tanggal atau ganti venue. Akhirnya saya ganti tanggal dan ganti venue juga ujung-ujungnya :D. Gedung di Jakarta yang mau nerima resepsi adat batak itu bisa dihitung dengan jari, jadi ya begitu deh. Tanggal untuk venue resepsi nasional, yang pasti mengikuti tanggal resepsi adat lah.
5. buat perkiraan
kasar jumlah tamu untuk adat dan nasional
Sorting tamu mana yang akan diundang di respesi nasional itu penting sebelum memutuskan untuk DP venue, dimana biasanya jumlah tamu harus sesuai dengan luasnya venue. Karena sebagian sudah datang di resepsi adat, ya jadi tamu nasional ga terlalu membludak sih.
Sorting tamu mana yang akan diundang di respesi nasional itu penting sebelum memutuskan untuk DP venue, dimana biasanya jumlah tamu harus sesuai dengan luasnya venue. Karena sebagian sudah datang di resepsi adat, ya jadi tamu nasional ga terlalu membludak sih.
Nah, sejauh ini
sih nomor 1-3 yang udah dijalanin, sisanya belum. Yang paling bikin pusing sih poin
nomor 1 *shocked*. Soal tema dan konsep itu mau kaya gimana, baru mau di
googling juga. Minggu depan bang Frans mau DP gedung untuk resepsi adat. Doakeunnn semoga lancar.
Oke saya mau googling-googling
lagiii.. Semoga dapat ide yang brilian.
Patua Hata
Acara patua hata adalah
kunjungan rombongan keluarga paranak ke rumah parboru dalam jumlah yang lebih
besar untuk menyatakan keinginan melamar anak parboru menjadi menantu. Disebut
patua hata karena semula keinginan dan hubungan itu baru hanya sebatas hubungan
antara pemuda dan pemudi yang kemudian ingin ditingkatkan menjadi dicampuri
oleh pihak orang tua. Berhubung hal ini sudah melibatkan langsung orang tua
kedua belah pihak, tentu semua sudah harus transparan. Patua hata yang
dilaksanakan belakangan ini juga sudah disatukan dengan adat marhusip yang pada
mulanya terpisah dan diperankan kelompok boru. Paranak akan bertanya apakah
calon menantu sudah benar-benar cinta pada anaknya. Pertanyaan itu tidak
langsung dilakukan oleh paranak tetapi melalui boru yang sudah menikah dan
jawabannya akan diumumkan kemudian secara resmi oleh protokol/parsinabul
parboru. Bila pengakuan parboru sudah ada maka acara pun dilanjutkan dengan
membicarakan hasil pembicaraan ketika marhorihori dingding. Suguhan makanan
tradisional disajikan lengkap dengan namargoarnya yang dibawa pihak paranak dan
dengke dari pihak parboru. Kata pembukaan pada acara tersebut adalah:
“Magodang anak pangolihononhon, magodang boru pahutaon”. Sebagai penutup, kedua
calon mempelai wajib diberi arahan agar mereka jangan sampai pernah lagi membat
hubungan asmara dengan pihak lain dimana hal itu sungguh-sunguh tidak
diperbolehkan.
Sumber:
Dr. Paimin Napitupulu, Edison Hutabarat: Pedoman Praktis Upacara Adat Batak
Thursday, 8 August 2013
Proses Perkawinan Dalam Budaya Batak Toba
Lagi belajar tentang pernikahan dalam adat Toba nihhh... Hehe..
Pada suku Batak Toba perkawinan adalah merupakan suatu peristiwa besar, mengundang hulahula, boru, dongan tubu serta dongan sahuta sebagai saksi pelaksanan adat yang berlaku. Dalam adat Batak Toba perkawinan haruslah diresmikan secara adat berdasarkan adat dalihan na tolu, yakni Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Perkawinan pada masyarakat Batak Toba sangat kuat sehingga tidak mudah untuk bercerai karena dalam perkawinan tersebut banyak orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya. Adapun tata cara perkawinan secara normal berdasarkan ketentuan adat terdahulu ialah perkawinan yang mengikuti tahap-tahap berikut:
1. Mangaririt
Mangaririt adalah ajuk-mengajuk hati atau memilih gadis yang akan dijadikan menjadi calon istrinya sesuai dengan kriterianya sendiri dan kriteria keluarga. Acara mangaririt ini dilakukan kalau calon pengantin laki-lakinya adalah anak rantau yang tidak sempat mencari pasangan hidupnya sendiri, sehingga sewaktu laki-laki tersebut pulang kampung, maka orang tua dan keluarga lainya mencarai perempuan yang cocok denganya untuk dijadikan istri, tetapi perempuan yang dicarikan tersebut harus sesuai dengan kriteria silaki-laki dan kriteria keluarganya.
Pada suku Batak Toba perkawinan adalah merupakan suatu peristiwa besar, mengundang hulahula, boru, dongan tubu serta dongan sahuta sebagai saksi pelaksanan adat yang berlaku. Dalam adat Batak Toba perkawinan haruslah diresmikan secara adat berdasarkan adat dalihan na tolu, yakni Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Perkawinan pada masyarakat Batak Toba sangat kuat sehingga tidak mudah untuk bercerai karena dalam perkawinan tersebut banyak orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya. Adapun tata cara perkawinan secara normal berdasarkan ketentuan adat terdahulu ialah perkawinan yang mengikuti tahap-tahap berikut:
1. Mangaririt
Mangaririt adalah ajuk-mengajuk hati atau memilih gadis yang akan dijadikan menjadi calon istrinya sesuai dengan kriterianya sendiri dan kriteria keluarga. Acara mangaririt ini dilakukan kalau calon pengantin laki-lakinya adalah anak rantau yang tidak sempat mencari pasangan hidupnya sendiri, sehingga sewaktu laki-laki tersebut pulang kampung, maka orang tua dan keluarga lainya mencarai perempuan yang cocok denganya untuk dijadikan istri, tetapi perempuan yang dicarikan tersebut harus sesuai dengan kriteria silaki-laki dan kriteria keluarganya.
2. Mangalehon Tanda
Mangalehon tanda artinya memberikan tanda yang apabila laki-laki sudah menemukan perempuan sebagai calon istrinya, maka keduanya kemudian saling memberikan tanda. Laki-laki biasanya memberikan uang kepada perempuan sedangkan perempuan menyerahkan kain sarung kepada laki-laki, setelah itu maka laki-laki dan perempuan itu sudah terlibat satu sama lain. Laki-laki kemudian memberitahukan hal itu kepada orang tuanya, orang tua laki-laki akan menyuruh prantara atau domu-domu yang sudah mengikat janji dengan putrinya.
3. Marhusip
Marhusip artinya berbisik, namun pengertian dalam tulisan ini adalah pembicaran yang bersifat tertutup atau dapat juga disebut perundingan atau pembicaraan antara utusan keluarga calon pengantin laki-laki dengan wakil pihak orang tua calon pengantin perempuan, mengenai jumlah mas kawin yang harus di sediakan oleh pihak laki-laki yang akan diserahkan kepada pihak perempuan. Hasil-hasil pembicaraan marhusip belum perlu diketahui oleh umum karena menjaga adanya kemungkinan kegagalan dalam mencapai kata sepakat. Marhusip biasanya diselenggarakan di rumah perempuan. Domu-domu calon pengantin laki-laki akan menerangkan maksud kedatangan mereka pada kaum kerabat calon pengantin perempuan.
4. Martumpol
Martumpol bagi orang Batak Toba dapat disebut juga sebagai acara pertunangan namun secara harafiah martupol adalah acara kedua pengantin di hadapan pengurus jemaat gereja diikat dalam janji untuk melangsungkan perkawinan. Martumpol ini dihadiri oleh orang tua kedua calon pengantin dan kaum kerabat mereka beserta para undangan yang biasanya diadakan di dalam gereja, karena yang mengadakan acara martumpol ini kebanyakan adalah masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen.
5. Marhata Sinamot
Marhata sinamot biasanya diadakan selesai membagikan jambar. Marhata sinamot yaitu membicarakan berapa jumlah sinamot dari pihak laki-laki, hewan apa yang di semblih, berapa banyak ulos, berapa banyak undangan dan dimana dilakukan upacara perkawinan tersebut. Acara marhata sinamot dapat juga dianggap sebagai perkenalan resmi antara orang tua laki-laki dengan orang tua perempuan. Mas kawin yang diberikan pihak laki-laki biasanya berupa uang yang jumlah mas kawin tersebut di tentukan lewat terjadinya tawar-menawar.
6. Martonggo Raja
Perkawinan pada masyarakat Batak Toba bukan hanya urusan ayah dan ibu kedua calon pengantin, tetapi merupakan urusan semua keluarga, karena itu orang tua calon pengantin akan mengumpulkan semua anggota keluarga di rumah mereka masing-masing dan yang hadir dalam upacara ini terutama menyangkut dalihan na tolu yaitu hula-hula, boru, dongan sabutuha, dan dongan sahuta (teman sekampung).
7. Marunjuk
Marunjuk adalah saat berlangsungnya upacara perkawinan, upacara perkawinan pada masyarakat Batak Toba ada dua macam yaitu alap dan taruhon jual. Alap jual adalah suatu upacara adat perkawinan Batak Toba yang tempat upcara perkawinan dilaksanakan di tempat atau di kampung perempuan. Pengantin perempuan dijemput oleh pengantin laki-laki bersama orang tua, kaum kerabat dan para undangan ke rumah orang tuanya. Pihak pengantin laki-laki sering menyebut istilah ini mangalap boru (menjemput pengantin perempuan). Pada acara merunjuk inilah akan berjalan semua upacara perkawinan dari makan sibuhai-buhai, pembagian, dan mangulosi.
8. Paulak Une
Acara ini dimasukkan sebagai langkah agar kedua belah pihak bebas saling kunjung mengunjungi setelah beberapa hari berselang setelah upacara perkawinan yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah upacara perkawinan, pihak pengantin laki-laki dan kerabatnya, bersama pengantin pergi ke rumah pihak orang tua pihak pengantin perempuan. Kesempatan inilah pihak perempuan mengetahui bahwa anak perempuannya betah tinggal di rumah mertuanya.
9. Maningkir Tangga
Upacara ini pihak perempuan pergi mengunjungi pengantin dirumah pihak laki-laki, dimana mereka makan bersama melakukan pembagian jambar. Pada hakekatnya maningkir tangga ini dimaksudkan agar pihak perempuan secara langsung melihat dari keadaan putrinya dan suaminya karena bagaimanapun mereka telah terikat oleh hubungan kekeluargaan dan sekaligus memberi nasehat dan bimbingan kepada pengantin dalam membina rumah tangga.
Kesepakatan pada nilai-nilai sosial merupakan dasar yang penting bagi banyak kelompok, terutama dalam perkawinan. Tiap-tiap pasangan perkawinan mempunyai nilai-nilai budaya sendiri, hal-hal yang dianggap penting oleh masing-masing pihak. Jarang sekali hal ini disepakati secara lengkap. Setiap pasangan dapat berbeda keinginannya dalam menentukan hal-hal seperti pengaturan keuangan, rekreasi, agama, memperlihatkan kasih sayang, hubungan-hubungan dengan menantu mereka, dan tata cara.
Nilai-nilai sosial meliputi berbagai pola-pola tingkah laku yang luas. Suatu nilai yang penting adalah perkawinan itu sendiri. Pada dasarnya, sikap terhadap perkawinan, seperti suatu nilai sering merupakan faktor penentu dalam keberhasilan perkawinan. Bagi kebanyakan orang, perkawinan adalah nilai tunggal mereka paling penting, dan mereka akan berbuat segalanya yang dapat mereka lakukan untuk menyesuaikan secara memuaskan.
Sumber: http://www.gobatak.com/
Monday, 5 August 2013
Perkenalan Keluarga
4 Agustus 2013
Finally, everything is going well until the day of perkenalan keluarga. Perkenalan keluarga berlangsung tertutup (bukan marhusip). Hanya ada keluarga inti saya, kedua orang tua pacar, sepupu pacar dari marga yang sama, dan istrinya. Namanya Berlin Pangaribuan. Sejauh ini, saya masih memanggilnya abang, namun ketika nanti saya sudah menikah, mereka yang memanggil kami abang dan kakak. Walaupun dari segi usia, mereka lebih tua namun dari urutan keluarga, bapak pacar saya lebih tua dari bapak dia.
Finally, everything is going well until the day of perkenalan keluarga. Perkenalan keluarga berlangsung tertutup (bukan marhusip). Hanya ada keluarga inti saya, kedua orang tua pacar, sepupu pacar dari marga yang sama, dan istrinya. Namanya Berlin Pangaribuan. Sejauh ini, saya masih memanggilnya abang, namun ketika nanti saya sudah menikah, mereka yang memanggil kami abang dan kakak. Walaupun dari segi usia, mereka lebih tua namun dari urutan keluarga, bapak pacar saya lebih tua dari bapak dia.
Perkenalan
keluarga dimulai dari memperkenalkan diri dan membicarakan kelanjutan hubungan
kami ke jenjang yang lebih serius. Semua berjalan lancar. kami makan bersama
dan ngobrol-ngobrol sedikit tentang rencana perrnikahan adat dan nasional yang
dipisah. Rencana pernikahan akan dilangsungkan bulan Agustus (tanggal belum
pasti), yang pasti setelah libur panjang Idul Fitri. Pesta adat di hari Jumat,
resepsi nasional di hari Sabtu. Gedung pesta adat di daerah Kelapa Gading, gedung resepsi nasional belum dipastikan tapi sudah ada perkiraaan;
yang pasti lokasinya sekitar Senayan, Sudirman, Thamrin, Gatot
Subroto dan Halim. Ada saran?? :)
Semua urusan adat
sudah diserahkan ke keluarga pacar. Pemberkatan akan dilakukan di gerejaku, GPIB Gloria Bekasi. Sisanya
sudah ada yang mengurusi, tugasku tinggal angguk-angguk setuju saja..
Proses Pernikahan pada Suku Karo
Karena saya sendiri orang Karo, saya merasa harus tahu dan cukup mengerti tentang adat terutama dalam pernikahannya, karena bagaimanapun juga saya akan ikut terlibat nanti dalam adat ini... Dan seperti yang orang tua saya bilang, kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikannya? :)
Kita terlebih dahulu diajak kembali kira-kira 100 tahun yang lalu. Kondisi kehidupan masyarakat Karo pada saat itu masih cukup sederhana dalam segala aspek. populasi penduduk belum ramai, perkampungan masih kecil, ada dua atau tiga rumah adat waluh jabu ditambah beberapa rumah sederhana satu dua. Kalau sudah ada sepuluh rumah adat baru dapat dikatakan perkampungan tersebut ramai. Sarana dan prasarana jalan belum ada, hanya jalan setapak yang menghubungkan satu kampung dengan kampung yang lain. Kegiatan ekonomi dan perputaran uang hanya baru sebagian kecil saja. Hanya pedagang yang disebut dengan “Perlanja Sira” yang sesekali datang untuk berdagang secara barter (barang tukar barang)
Kita terlebih dahulu diajak kembali kira-kira 100 tahun yang lalu. Kondisi kehidupan masyarakat Karo pada saat itu masih cukup sederhana dalam segala aspek. populasi penduduk belum ramai, perkampungan masih kecil, ada dua atau tiga rumah adat waluh jabu ditambah beberapa rumah sederhana satu dua. Kalau sudah ada sepuluh rumah adat baru dapat dikatakan perkampungan tersebut ramai. Sarana dan prasarana jalan belum ada, hanya jalan setapak yang menghubungkan satu kampung dengan kampung yang lain. Kegiatan ekonomi dan perputaran uang hanya baru sebagian kecil saja. Hanya pedagang yang disebut dengan “Perlanja Sira” yang sesekali datang untuk berdagang secara barter (barang tukar barang)
Pekerjaan yang dilakukan hanyalah kesawah dan ke ladang (kujuma kurumah), ditambah menggembalakan ternak bagi pria dan menganyam tikar bagi wanita. Pemerintahan yang ada hanya sebatas pemerintahan desa. Kepercayaan yang ada adalah aninisme, dina-misme yang disebut “perbegu”. Alat dapur yang dipakai masih sangat sederhana, priuk tanah sebagai alat memasak nasi dan lauk pauknya, walau ada juga yang telah memasak dengan priuk gelang-gelang atau priuk tembaga/besi, tempat air kuran. Namun demikian kehidupan berjalan terus, meneruskan generasi dilaksanakan dengan orang yang sudah dianggap dewasa berkeluarga, dikatakan dewasa bagi seorang pria adalah ketika dia telah dapat membuat ukat, kuran atau membuka ladang, bagi wanita telah dapat menganyam tikar dan memasak nasi dan lauk pauk.
Proses Pernikahan
Proses ataupun tahapan yang akan
dilaksanakan bila ingin berkeluarga pada pria dewasa dinamai “Anak Perana” dan
wanita dewasa dinamai “Singuda-nguda”. Ada lima tahapan yang harus dijalankan
yaitu :
1. Naki-naki
Anak Perana yang ingin menikah terlebih dahulu mencari seorang singuda-nguda, yang dianggapnya cocok, tidak sumbang, tetapi harus sesuai dengan adat Karo. Melakukan komunikasi melalui perantaraan, sampai ada kesediaan siwanita menerima kehadirannya.
2. Maba Nangkih
1. Naki-naki
Anak Perana yang ingin menikah terlebih dahulu mencari seorang singuda-nguda, yang dianggapnya cocok, tidak sumbang, tetapi harus sesuai dengan adat Karo. Melakukan komunikasi melalui perantaraan, sampai ada kesediaan siwanita menerima kehadirannya.
2. Maba Nangkih
Jika sudah saling menyukai, diteruskan
dengan membawa siwanita “Nangkih” ke rumah anak beru si pria. Sebagi tanda
melalui perantara diberikan ‘Penading” kepada orang tua si wanita. Orang tua si
wanita seolah-olah kaget menerimanya, seakan mereka tidak tahu dan tidak
menyetujuinya, dan seterusnya. Namun demikian dua atau tiga hari kemudian
beberapa orang ibu-ibu menemani ibu si wanita menghantarkan nasi/makanan kepada
anaknya. Melakukan pembicaraan dengan pihak pria mengenai kelanjutannya, dan
seterusnya.
3. Ngembah Belo Selambar
3. Ngembah Belo Selambar
Setelah dilakukan pembicaraan dengan
yang baik antara kedua belah pihak, selanjutnya pihak pria mendatangi pihak
keluarga si wanita bersama sembuyak, senia dan anak berunya, demikian pula
pihak wanita bersama sembutyak, senina dan anak berunya telah bersiap menyambut
kedatangan pihak pria. Yang datang terbatas, cukup membawa satu atau dua ekor
ayam untuk dugulai dan beras secukupnya. Biasanya malam setelah selesai makan
dilaksanakan pembicaraan atapun musyawarah (runggu) isinya hanya satu yaitu
meminta kesediaaan dengan senang hati dari orang tua si wanita dalam keinginan
anaknya menikah, tentunya ikut juga dukungan dari anak beru, bila sudah
bersedia dan dengan senang hati orang tua si wanita (kalimbubu) acar tersebut
telah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, keesokan harinya pihak si
pria beserta kedua calon pengantin dapat langsung pulang.
4. Nganting Manuk
4. Nganting Manuk
Biasanya acara ini dilaksanakan pada
saat pekerjaan tidak begitu sibuk, padi telah dipanen sekali. Pembicaraan ini
harus dihadiri lebih lengkap dan lebih penting. Singalo bere-bere harus
dipanggil, lengkap sangkep ngeluh. Makanan lebih banyak dibawa (boleh kambing
atau babi), tidak lagi hanya ayam. Melihat bentuk pertemuan dan kesanggupan dan
kehormatan pihak yang datang. Waktunya boleh malam hari atau pagi menjelang
siang hari. Banyaknya yang hadir kira-kira memenuhi rumah adat ataupun sekitar
2 -3 kaleng beras untuk dimasak. Dalam acara ini yang dibicarakan adalah
mengenai pelaksanaan pesta adat, kapan waktunya, berapa yang harus titangngung
dan berapa utang adat yang harus dibayarkan.
Tingkatan Pesta ada tiga pilihan yaitu:
1. Singuda pesta adatnya dilakukan dirumah saja
2. Sintengah bila kumpul seluruh sanak family
3. Sintua, bila ditambah pengantin rose, (berpakaian adat lengkap), ergendang (musik tradisional) dan memotong lembu atau kerbau.
Tanggungan pihak pengantin pria, seperti pembayaran utang adat tentunya disesuaikan dengan tingkatan pestanya adatnya. Dikarenakan telah didapat kesepakatan untuk melaksanakan pesta adat, maka ditanyalah kalimbubu singalo bere-bere, apa yang akan menjadi hadiah perkawinan (luah/pemberian) yang akan diserahkan sebagai tanda restu kepada beberenya yang akan menikah. Tentunya hal ini akan ditanyakan terlebih dahulu kepada beberenya, apa keinginannya, dan keinginan ini tidak dapat tidak disampaikan/disetujui. Mama si wanita akan memerintahkan kepada turangnya (ibu si wanita) agar menyediakan permintaan tersebut. Pada Nganting Manuk ini juga ditetapkan belin gantang tumba, banyaknya makanan yang harus dipersiapkan. Biasanya pesta dilaksanakan setelah selesai panen.
Kerja Adat Perjabun
Ini adalah tahapan terakhir mensyahkan telah diselesaikan adapt pernikahan. Telah syah menjadi satu keluarga yang baru. Semua akan berkumpul pada pesta adat seperti yang telah disepakati bersama. Dahulu tempat pesta tidak ada dirumah pasti tidak muat jadi pesta dilaksanakan di tempat lapang atau dibawah kayu rindang. Bila pada saat pesta panas terik maka anak beru kedua belah pihak akan mendirikan tempat berteduh yang terbuat dari kayu, daun rumbia atau daun/pelepah kelapa. Tikar tempat duduk dan kayu bakar telah dipersiapkan oleh pihak siwanita. Dikarenakan pada saat itu fasilitas apapun tidak ada, maka diminta kepada penduduk desa untuk memasak makanan, masing-masing 2-3 tumba berikut dengan sumpitnya (tempat nasi) dan membawanya ketempat pesta dilaksanakan.
Lauk pauk (daging) langsung dibagi lima, dua bagian untuk pihak pria, dua bagian untuk pihak wanita dan satu bagian untuk singalo bere-bere. Jadi jelaslah bagi kita bahwa ketiga komponen inilah yang berperan penting. Sukut si empo (pihak pria) bersama sangkep nggelunya, begitu juga pihak wanita. Tidak ketinggalan singalo bere-bere bersama sangkep nggeluhnya inilah yang disebut dengan Kalimbubu Si Telu Sedalanen (hal ini akan kita bicarakan dilain waktu)
Masing-masing ketiga kelompok ini membawa anak berunya untuk menyiapkan makanan seperti yang telah dibagikan tadi. Jika kalimbubu si ngalo ulu emas dari pihak pria, boleh tidak hadir disitu, akan didatangi dikemudian hari untuk membayar utang adat. Pada waktu dulu tidak ada pidato-pidato seperti sekarang ini, kalimbubu singalo bere-bere memberikan hadiah dan doa restunya.
Untuk mensyahkan pernikahan menurut adat telah selesai, selanjutnya akan dijalankan terlebih dahulu “si arah raja”, ini ditangani oleh Pengulu atau Pemerintah, besarnya Rp. 15,- uang perak, dinamakan si mecur, diberikan kepada seluruh komponen yang berhak menerima, ulu emas, bena emas, perkempun, perbibin, perkemberahen, dan lainya. Setelah itu Rp. 60,- uang perak unjuken untuk pihak si wanita, selebihnya dinamakan tepet-tepet dijalankan oleh anak beru kedua belah pihak saja.
Pesta Pernikahan terbagi atas tiga jenis:
1. Kerja Erdemu Bayu, bila jumpa impal, ngumban ture buruk, jumpa kalimbubu ayah, kembali kepada kampahnya bila jumpa kalimbubu nini.
2. Kerja Petuturken, jumpa kelularga yang baru, terlebih dahulu bertutur.
3. Kerja Ngeranaken, bila ada yang harus dimusyawarahkan, misal tuturnya turang impal, tutur sepemeren, ada yang harus diperbaiki sabe ataupun denda, nambari pertuturen.
Demikianlah sekilas Kronologis Proses Pernikahan pada Suku Karo dan Pesta Adatnya, pada zaman dulu, hal ini sebagai kilas balik sesuai dengan zamannya.
Sumber :
Warta GBKP Maranatha Ditulis oleh Y. Sinuraya (Naskah Asli dalam bahasa Karo)
Diterjemahkan oleh Jimmi Hendrawan Sinulingga
Website gbkpjakartapusat.org
Subscribe to:
Posts (Atom)
