Wednesday, 24 July 2013

Keep Calm and Say I do




Sebenernya ga ada lamaran khusus dari pacar untuk nikah, cuma dia sering bahas aja. Eh mama aku kemarin nanyain atau gw yang mancing-mancing duluan. Hehehe, cewek... Sebenernya sih pengennya di lamar dalam suasana romantis gitu, dimana dia tiba-tiba bertekuk satu lutut di hadapan gw, memperlihatkan cincin, nanyain"will you marry me?" trus gw jawab "Yes, I do" trus gw terharu agak mewek dan dia makein ke jari gw yang manis. Yaaah seperti di film-film itu loh... Hahahaha.

Itu sih salah satu bayangan gw ketika dilamar cowok, terutama saat kecil gw udah bayangin dilamar cowok itu gimanah. Tapi yasudahlah yahhh. Kita orang timur dimana yang ngelamar dan nanyain duluan itu orang tua si pacar... Hmmm, mungkin karena kelamaan pacaran yah (hampir 7 tahun gitu loh). Intinya, gw senang dan lega, pihak keluarga gw dan keluarga dia mendukung total. Karenaaa, dukungan keluarga yang masih menganut adat itu super duper penting. Ga seperti budaya barat, dimana sepasang itu bisa memutuskan semua sendiri, keluarga cuma tinggal di info, disetujui syukur, ga disetujui tetep jalan. Ya ga sih??? Hahaha.

Monday, 22 July 2013

First of all


Singkat cerita, aku dan Frans diskusi mau nikah di 2014. Mama papa bang Frans yang semangat banget itu langsung bilang bla bla... Pokoknya rincian itu gedung sekian, catering sekian, kebaya sekian, saweran dll, total-total, segitu deh. Whaaattt?!

Rencananya adat itu kan biasanya pakai b2 yah. Karena keluarga aku itu banyak yang muslim, jadi mau diganti pakai sapi aja. Perkiraaan harga daging sapi itu lebih mahal dari daging babi. Budget bisa nambah. Rencana juga dapet gedung yang luas dan mewah sekalian karena undang tamu adat dan nasional, jadi supaya sekalian gitu... ruangan buat tamu adat oke, tamu nasional juga oke. Pilihan pertama itu Mangaradja, Kelapa Gading. Kenapa? Pertama, gedung itu dekat dengan rumah keluarga dan saudara Frans. Tinggal di Pulo Mas, Rawamangun, Priuk, Cempaka Putih dan Bekasi kan yah lumayan strategis. Kedua, gedungnya oke untuk nikah adat. Cukup luas bisa sampai 1000 orang, cat temboknya terlihat masih baru, lantainya mewah, lobbynya keren, parkir cukup luas bisa 3000 mobil, posisi pinggir jalan raya, banyak akses kesana. Minusnya, ceilingnya pendek biarpun ga pendek-pendek amat menurut aku untuk pesta yang duduk. Adat itu kan duduk yahhh, bukan standing party. Minus kedua, harga sewa untuk gedungnya aja itu mahal. Ada harga, ada barang sih. Terbukti waktu kita kesana, gedung itu udah full booked di hari Sabtu sampai Agustus 2014. Kita ini dateng 13 Juli 2013 lohhh. Ruarrr biasahhh. Laku ye.

Kita sempet tanya-tanya dan dikasih kertas keterangan semua, mulai dari list harga, fasilitas dan rekanan, langsung kita presentasikan depan mama papa bang Frans. Marketingnya baik dan ramah, satpamnya juga ramah. Saat kita kesana kebetulan lagi ada yang nikah, jadi sungkan untuk lihat isi gedung. Itu bulan puasa ada yang nikah, iyalah Batak mana ngaruh mau Ramadhan atau ga. Haha. Tapi dari foto-foto yang diperlihatkan orang marketing cukup ada gambaran sih. Aku sendiri sih belum pernah masuk kedalam sana.